Sunday, July 30, 2017

Puisi untuk para koruptor TAKTERLIHAT, TAKTERDEGNAR, TAKTERDUGA | 34 Sastra Indonesia

TAKTERLIHAT, TAKTERDEGNAR, TAKTERDUGA

Puisi untuk para koruptor TAKTERLIHAT, TAKTERDEGNAR, TAKTERDUGA | 34 Sastra Indonesia

TAKTERLIHAT, TAKTERDEGNAR, TAKTERDUGA

Mata yang berkaca-kaca seakan menjatuhkan air iba.
Meminta belas kasihan dari para penguasa bangsa.
Seonggo penguasa yang zalim dan hina.
Dengan membanggakan beberapa digit huruf yang mengiringi namanya.

Kemana pergi nya wibawa sang pihak pewajib?.
Seakan buta dan tuli di antara lima orang sepuluh wajah.
Seperti ada yang tengkak di panggung ini.
Panggung sandiwara terluas.

Tidak hanya luas tetapi juga tak terlihat bagaikan ghaib.
Tidak hanya ghaib tetapi juga tak terdengar bagaikan angin.
Tidak hanya tak terdengar tapi juga tak terduga bagaikan bencana.
Tidak hanya tak terduga tapi juga tak berprikemanusiaan bagaikan hewan.

Pencurian terhebat dan terdahsyat.
Merugikan seluruh bangsa.
Tidak terhitung jumlahnya.
Tidak ternilai harga dirinya.

Dan kenapa tapi?.
Tapi mereka sejahtera melenggang bagaikan penari zapin.
Ooohhh jabatan sebagai tameng pengaman nya.
Agar tak di ciduk pihak pewajib.

Rakyat cilek di perlakukan semena-mena.
Hanya karna tidak memiliki harta.
Hartalah sebagai pembeda kasta.
Pemikirannya lebih rendah daripada binatang.

Memang kami hanya rakyat kecil.
Tak mempunyai title ataupun jabatan.
Tapi kami ingin di perlakukan secara adil.
Karna kami rakyat bukan binatang.

Wahai penguasa terkejam, terzalim.
Bukalah matamu seluas samudra.
Apa artimu jikalau rakyat tidak memilih tidak memilah.
Dirimu satu bermata empat, berhidung dua, bermulut dua.

Karya Sastra : Rafi Anto & Fandu Prassetia
   


TAKTERLIHAT, TAKTERDEGNAR, TAKTERDUGA

 Assalamualaikum
apakabar sahabat sastra yang ada di seluruh penjuru tanah air indoneisa, kalian semua pecinta sastra yang ada berjajar dari sabang sampai marauke, kali ini 34 sastra indonesia meluncurkan puisi yang berjudul "Takterlihat, Takterdengar, Takterduga" puisi ini di tujukan kepada orang petinggi negara yang telah mengambil hak rakyat, di mana rakyak di wajibkan dengan keras dan disiplin untuk membayar pajak negara, rakyat di berikan mulut manis dari sang calon, ternyata calon pencuri, pencuri apa? pencuri hak rakyat, dimana uang pajak dan kewajiban yang rakyat bayar harusnya dapat dijadikan jalan dan pemerataan desa ternyata malah di serobot dengan cara Takterlihat, Takterdengar, Takterduga. kami harap bapak ibu yang terhormat dapat merenungkan betapa sedihnya algoritma yang telah penguasa buat, penipuan masal yang sangat dahsyat,
      Pesan dari kami sorang pelajar sekaligurs rakyat, kami doakan anda yang telah berada dibalik jeruji besi bisa kembali kejalan yang lurus, sadar dan berjanji untuk tidak mengulangi lagi. Kemudian dari pada itu untuk bapak ibu yang terhormat kami yakin tidak sedikit pemimpin di negeri ini yang setia dengan janji sumpahnya, tapi sesekali janganlah coba-coba karna semua kejahatan itu bagaikan narkoba membuat pelaku tercandu dan yang terakhir segala yang di larang itu memang nikmat rasanya, tapi rasa nikmatnya sementara dan tidak akan terasa lama.


EmoticonEmoticon